PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN IBU HAMIL TERHADAP PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN IBU HAMIL TERHADAP PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN

Oleh Agustinus Sugiarto

Program Studi Kedokteran Keluarga Pasca Sarjana

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Tahun 2003

ABSTRAK

Latar belakang  dilakukannya studi  adalah  tingginya AKI  di Kabupaten Pati pada tahun tahun 1999 (111 per 100.000 kelahiran hidup) dan tahun 2000 (123,6 per 1000 kelahiran hidup). Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yang berpengaruh terhadap  pemilihan penolong persalinan di Kabupaten Pati.

Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan studi potong lintang (Cross Sectional). Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Gabus II Kec. Gabus Kab. Pati, Jawa Tengah. Populasi penelitian adalah  ibu hamil  yang berada di wilayah Puskesmas Gabus II Kec. Gabus Kab. Pati yang maksimal satu tahun melahirkan dan sampel penelitian sebanyak 489 orang (all population). Pengolahan dan analisis data menggunakan Program SPSS Version 9.0 dan Minitab  Version 13.20. Setelah  dilakukan analisis  univariat dan bivariat dilakukan analisis Regresi Ganda Logistik   metode Backward Stepwise (Conditional).

Hasil penelitian menunjukkan, dari 209 ibu hamil yang berpendidikan  6 tahun (tidak sekolah dan SD) sebanyak 157 orang (31,70 %)  memilih dukun (Non NAKES) sebagai penolong persalinan, dan hanya 52 orang (11,04 %)  yang memilih tenaga kesehatan  (NAKES). Sedangkan dari 280 ibu hamil yang berpendidikan > 6 tahun (SLTP/SMU/SMK/PT) 197 orang (39,06 %) memilih tenaga kesehatan  dan 83 orang (17,18 %) memilih dukun.

Pengujian hipotesis dengan tingkat signifikansi < 0,05, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna (p = 0,0006)  antara tingkat pendidikan ibu hamil terhadap pemilihan penolong persalinan. Ibu hamil yang berpendidikan > 6 tahun mempunyai kemungkinan 4,1388 kali lebih banyak memilih  NAKES  di banding ibu hamil yang berpendidikan  6 tahun dengan OR = 4,1388 dan  95 % CI = 1,8366 – 9,3267. Faktor lainnya yang juga berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan adalah pengetahuan ibu tentang resiko kehamilan dan persalinan, sikap terhadap ANC, jarak  ke pelayanan kesehatan, pendapatan keluarga, biaya persalinan, dan pengambilan keputusan kolektif dalam keluarga.

Penelitian ini  menyimpulkan bahwa  tingkat pendidikan ibu hamil berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan. Peneliti menyarankan  agar pemerintah, masyarakat dan keluarga dapat membantu  meningkatkan pedidikan  ibu hamil  untuk  meningkatkan cakupan persalinan oleh NAKES  sebagai upaya membantu program-program penurunan AKI dan AKB. Selain itu perlu dilakukan kajian dengan lingkup yang lebih luas  untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan dari berbagai sudut pandang dan metode analisis.

Kata kunci:- AKI  – Pendidikan – Penolong Persalinan.

PENDAHULUAN

Kebijaksanaan kependudukan di Indonesia (UU No. 10 tahun 1992) diarahkan pada pembangunan  penduduk sebagai sumber daya manusia  yang merupakan kekuatan pembangunan bangsa yang efektif dalam rangka mewujudkan  kehidupan keluarga dan masyarakat yang berkualitas  (DepKes RI, 1998a; Sugiyanto, dkk, 2001).

Sebagai upaya strategis mewujudkan keluarga berkualitas adalah usaha pemeliharaan kesehatan ibu  dan anak  yang salah satu tujuannya adalah menurunkan  Angka Kematian Ibu (AKI)  dan Angka Kematian Bayi (AKB)   (Soemanto, dkk, 1994; Molo, 1995).

AKI menggambarkan tingkat kesadaran perilaku  hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan nifas. Menurut hasil SKRT tahun 1992 AKI di Indonesia sebesar 425 per 100.000 kelahiran hidup (WHO, 1993).

Berdasarkan  laporan UNICEF di antara beberapa  negara di Asia pada periode 1990 – 1998, Indonesia, Bangladesh, dan India merupakan negara-negara dengan  AKI  paling tinggi  yaitu masing-masing  sebesar  450, 440, dan 410 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2001: 109; UNPFA, 2002).

Faktor penyebab tingginya AKI tersebut amat beragam.  Sebab-sebab kematian itu dikenal dengan tri terlambat, yaitu: (1) terlambat di rumah (terlambat mengenali bahaya dan penentuan keputusan perlunya ibu bersalin dirujuk ke fasilitas kesehatan modern), (2) terlambat di jalan (terlambat dalam  transportasi   membawa   ke  Puskesmas,  Dokter  atau  Rumah Sakit),  dan (3) terlambat  mendapatkan pertolongan di tempat pelayanan   kesehatan karena fasilitas kesehatan kurang memadai (DinKes Kab. Pati, 1998; Felly, 2001; Elizabeth and Nancy, 2002).

Rendahnya cakupan pemeriksaan selama kehamilan, akibat persalinan yang kurang bersih dan kebiasaan pada ibu-ibu hamil yang belum memenuhi persyaratan medis dan kesehatan juga menyebabkan tingginya AKI di Indonesia. SDKI 1994 menemukan kenyataan bahwa sebagian besar persalinan ditolong oleh dukun dan bukan tenaga kesehatan, dan sebanyak  70,6 % persalinan dilakukan  di rumah yang tidak  jarang jauh dari syarat  bersih dan sehat  (Raheni, dkk, 1998).

Keterlambatan ibu hamil mendapatkan pelayanan  perinatal juga  disebabkan oleh faktor sosial ekonomi masyarakat  seperti pendidikan, pendapatan, pengambilan keputusan, jarak, biaya dan birokrasi rumah sakit  (Nasrin, 2001; Hani, 2002;  Khofifah, 2001)

Dari beberapa faktor tersebut  di atas, tingkat pendidikan merupakan faktor yang sangat berperan dalam pemilihan penolong persalinan, karena tingkat pendidikan dapat menunjukkan tingkat status kesehatan seseorang (Basov, 2002: 2;  Folland, et al, 2001: 116). Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar kepedulian terhadap kesehatan.  Dengan  pendidikan yang baik   memberikan pada wanita kekuasaan  dan kepercayaan diri untuk   mengambil tanggung jawab atas wanita itu sendiri (Soemanto, 1990).

LANDASAN TEORI

Menurut Rosalia Scortiano citasi Sugiyanto, dkk (2001) kesehatan reproduksi mencakup beberapa unsur utama yaitu:  (1) perilaku reproduksi yang bertanggung jawab selama usia subur, (2) akses pada pelayanan keluarga berencana (KB) yang aman, (3) perawatan kesehatan ibu secara  efektif dan aman, (4) pengendalian secara efektif terhadap infeksi sistem reproduksi, (5) pencegahan dan penanganan infertilitas (kemandulan), (6) penghapusan aborsi yang tidak aman, (6) pencegahan dan pengobatan penyakit yang membahayakan  pada organ reproduksi, dan (8) perawatan sebelum dan selama kehamilan, melahirkan, dan sesudah melahirkan.

Meskipun kelahiran adalah proses yang alamiah dan normal, namun demikian, ‘kehamilan tanpa risiko’ dapat disertai komplikasi yang sering disebut sebagai komplikasi obstetri.  Komplikasi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, namun lebih sering terjadi pada saat persalinan atau  sekitar persalinan  (Handoko, 1985;  Depkes RI, 1999b).

Lebih dari 1400 ibu hamil meninggal setiap  hari karena  masalah yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.  Sebagian besar terjadi   karena komplikasi persalinan, di mana  keselamatan ibu dan bayi banyak terancam (UNICEF, 2003).  Bahaya yang mengancam tersebut  dapat dikurangi jika  ibu hamil mendapatkan perawatan sebelum, saat dan sesudah persalinan. Kesempatan untuk  mendapatkan perawatan antenatal (ANC) secara teratur  selama  hamil (K1 sampai K4), pertolongan persalinan paling sedikit oleh atau didampingi bidan dan perawatan nifas harus terjangkau setiap ibu hamil. Selain itu ibu yang mengalami komplikasi obstetri harus diupayakan memperoleh pelayanan kegawatan obstetri untuk menyelamatkan jiwanya. Untuk itu diperlukan kesiapan sejak awal kehamilan untuk  menghadapi kemungkinan  terjadinya kedaruratan obstetri pada saat persalinan, khususnya pemilihan penolong persalinan (DepKes RI, 1999b).

1.    Penolong persalinan

Tenaga yang dapat memberikan pertolongan persalinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) dan dukun bayi (terlatih dan tidak terlatih) (DepKes, 1998b).

2.    Perilaku Ibu Hamil dalam Memilih Penolong Persalinan

Pemilihan penolong persalinan di Puskesmas  sangat dipengaruhi oleh perilaku  ibu bersalin. Notoatmodjo (1993) membagi perilaku ke dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif diukur dari pengetahuan, afektif diukur dari sikap dan psikomotor diukur dari tindakan.

3.    Pengaruh Tingkat Pendidikan Ibu Hamil  terhadap Pemilihan Penolong Persalinan

Tingkat pendidikan ibu juga berpengaruh pada pemilihan penolong persalinan dan perawatan selama kehamilan. Pada penelitian yang diadakan di Lima-Peru pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sebanyak 82% wanita berpendidikan memilih pelayanan tenaga kesehatan (NAKES) dan wanita tidak berpendidikan yang memilih tenaga NAKES hanya 62% (World Bank, 1994: 42).

Studi di Mexico yang dilakukan oleh National Safe Motherhood pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa kasus kematian pada saat persalinan   disebabkan oleh beberapa faktor  antara lain, sosial ekonomi, budaya,  status kesehatan, dan pendidikan. Wanita yang miskin dan  minim pendidikan mengalami keterbatasan  kekuasan dalam pengambilan keputusan  berkaitan dengan proses kehamilan dan persalinan sehingga lebih banyak yang mengalami kematian, karena tidak mendapat perawatan yang semestinya (Ana Langer, 1999; DepKes RI, 2000a).

4.    Faktor  Prediktor Perilaku Pemilihan Penolong Persalinan

Selain faktor  tingkat pendidikan ibu  hamil faktor-faktor berikut juga berpengaruh terhadap ibu bersalin  dalam memilih penolong persalinan, antara lain:

a.    Usia  ibu hamil

Usia ibu hamil yang terlalu muda atau terlalu tua (<  20 tahun dan  > 35 tahun merupakan faktor  penyulit kehamilan, sebab ibu yang hamil terlalu muda keadaan tubuhnya belum siap menghadapi kehamilan, sedangkan di atas 35 tahun apabila mengalami komplikasi maka risiko mengalami kematian lebih besar  (Hany , 1996; Meiwita, 1998; Djaswadi, dkk, 2000).

b.    Jarak tempat tinggal ke pelayanan kesehatan

Menurut Nasrin (2001) salah satu penyebab  keterlambatan ibu bersalin untuk mendapatkan pelayanan yang tepat adalah  akibat jarak yang tidak terjangkau. Jarak yang terlampau jauh dan  tidak tersedianya sarana transportasi  menyebabkan ibu hamil  memilih persalinan di rumah  dengan bantuan dukun, sehingga  apabila mengalami komplikasi saat persalinan tidak segera mendapatkan pertolongan yang memadai. Hal ini sering menyebabkan  kematian ibu dan bayi.

Di Nigeria, ibu hamil yang mengalami perdarahan pada saat persalinan, sering mengalami kematian di perjalanan  menuju  pusat layanan kesehatan modern.  Hal ini  sering disebabkan oleh jarak yang terlampau jauh dan tidak tersedianya sarana transportasi  (Essien,1997).

c.    Pendapatan Keluarga

Berdasarkan laporan akhir UNICEF Juli 1999 hampir 24 % dari seluruh penduduk Indonesia atau hampir  50 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan. Enam puluh persen dari ibu hamil dan anak sekolah kekurangan zat besi/anemia. Hal ini  menunjukkan  sebagian besar pendapatan penduduk Indonesia masih sangat rendah. Sehingga  mengurangi akses ke perawatan kesehatan, karena pada masyarakat miskin pedesaan rata-rata pengeluaran per harinya kurang dari Rp. 5000,00 (US$ 0,60). Kondisi ini berpengaruh  terhadap pemilihan penolong persalinan  yaitu pesalinan yang ditolong oleh NAKES sebesar 38.5% tahun 1992 dan 43,2 % tahun 1997. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar persalinan masih ditolong dukun bayi (Dursin, 2000).

d.    Biaya Persalinan

Hasil penelitian Djaswadi, dkk (2000)  menunjukkan bahwa mahalnya biaya persalinan dan alasan kenyamanan sebagian besar ibu hamil di Kabupaten Purworejo lebih memilih melahirkan di rumah dengan pertolongan dukun.

Sebagai contoh saat ini  biaya untuk kelahiran normal di kamar kelas tiga di rumah sakit swasta sekitar Rp. 390.000,00 sedangkan  biaya untuk pelayanan gawat darurat sekitar 16 sampai 20 juta rupiah (Marzolf, 2002: 36).

e.    Pengambilan Keputusan Kolektif dalam Keluarga

Pada kenyataannya banyak kasus kematian ibu melahirkan sering disebabkan oleh keterlambatan suami dalam mengambil keputusan rujukan ke pelayanan kesehatan (Elizabeth and  Nancy, 2002). Berdasarkan hasil SUSENAS 1995, sebagian besar suami   (51 %) memilih dukun  saat istrinya  melahirkan dengan alasan, murah (biaya terjangkau), lebih  nyaman dan  dapat membantu perawatan bayi sampai 35 hari (Meiwita, 1998).

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa peran suami sangat dominan dalam pengambilan keputusan, sehingga berpengaruh terhadap akses dan kontrol terhadap sumber daya yang ada. Dengan demikian  ibu hamil  perlu mempunyai keberanian    dan rasa percaya diri untuk berpendapat menentukan penolong persalinan profesional  yang diinginkan (Susana, 2000; Mercy, 2003).

f.     Keberhasilan pertolongan persalinan sebelumnya

Menurut Dinas Kesehatan (1999b) dan Djaswadi, dkk (2000) selain faktor usia, ibu hamil yang pertama kali dan ibu yang telah hamil lebih dari tiga kali mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi bila mengalami komplikasi obstetri.

Menurut Read (1959)  dalam Hudono, (1979) ketakutan merupakan faktor utama yang menyebabkan rasa nyeri pada persalinan yang seharusnya tanpa rasa nyeri. Akibatnya rasa takut dapat mempunyai pengaruh tidak baik terhadap lancarnya his dan pembukaan.   Hal ini biasanya dialami oleh wanita  yang mempunyai pengalaman tidak  menyenangkan dalam kehamilan sebelumnya. Dengan demikian  urutan kelahiran keberhasilan persalinan sebelumnya sangat berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan pada anak berikutnya. Oleh sebab itu  untuk kehamilan yang berisiko besar disarankan agar ditangani oleh NAKES yang profesional dengan peralatan yang lebih lengkap.

Berdasarkan landasan teori dan  beberapa penelitian tersebut  maka dibangun kerangka pemikiran dengan variabel bebas: tingkat pendidikan ibu hamil. Variabel terikat: pemilihan penolong persalinan, sedangkan sebagai variabel antara adalah pengetahuan dan sikap  ibu hamil  serta variabel  kontrol (kovariat) adalah: usia ibu, jarak ke pelayanan kesehatan,  pendapatan keluarga, biaya persalinan, pengambilan keputusan kolektif dalam keluarga, dan keberhasilan pertolongan sebelumnya.  Kerangka pemikiran tersebut disajikan pada  Gambar 1  berikut:

Perumusan hipotesis pada penelitian ini adalah:

  1. Ada pengaruh  tingkat pendidikan ibu hamil  terhadap pemilihan penolong persalinan.
  • Ibu hamil yang berpendidikan tinggi memilih penolong persalinan Tenaga Kesehatan (NAKES),

  • Ibu hamil yang berpendidikan rendah memilih penolong persalinan NON NAKES (Dukun).
  1. Ada pengaruh antara pengetahuan ibu, sikap ibu terhadap ANC, umur ibu, jarak ke pelayanan kesehatan,  pendapatan keluarga, biaya persalinan,  pertolongan persalinan sebelumnya dan pengambilan keputusan kolektif dalam keluarga terhadap pemilihan penolong persalinan.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah observasi analitik dengan pendekatan studi potong lintang (Cross Sectional). Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Gabus II Kec. Gabus Kab. Pati, Jawa Tengah  yang terdiri 10 desa. Populasi dalam penelitian ini adalah  ibu hamil  yang berada di wilayah Puskesmas Gabus II Kec. Gabus Kab. Pati yang maksimal satu tahun melahirkan. Sampel penelitian diambil all population sebanyak 489 orang. Alat ukurnya adalah kuesioner. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Program SPSS Version 9.0 for Windows dan Minitab  Version 13.20 for Windows. Setelah  dilakukan analisis  univariat dan bivariat dilakukan analisis Regresi Ganda Logistik   metode Backward Stepwise (Conditional).

HASIL PENELITIAN

Pola persalinan Ibu hamil di Wilayah Puskesmas Gabus II Kab. Pati. secara umum menunjukkan  bahwa dari 489 responden, 464 orang (94,89 %) melahirkan di rumah  dan  hanya  25 orang (5,11 %) yang melahirkan di Rumah Sakit. Sedangkan menurut penolong persalinan, sebanyak 240 orang  (49,08 %) ditolong  oleh dukun, dan  249 orang (50,92 %) ditolong oleh NAKES (dokter, bidan).

Menurut tingkat pendidikan ibu hamil di wilayah Puskesmas Gabus II Kab. Pati  menunjukkan bahwa ibu hamil yang berpendidikan   6 tahun  sebanyak 209 orang (42,74 %), sedangkan ibu hamil yang berpendidikan > 6 tahun sebanyak  280 orang (57,26 %).

Tabel  1.      Rangkuman Analisis Regresi Ganda Logistik Faktor-faktor yang Berhubungan Sekaligus Berpengaruh terhadap Pemilihan Penolong Persalinan

Variabel OR 95% Confident Interval Significance

(p)

Wald

(W)

Significance of Log LR
Upper Lower
DIK 4.1388 9.3267 1.8366 0.0006 11.7410 0.0003
TAHU 13.7848 42.6487 4.4555 0.0000 20.7284 0.0000
SIKAP 9.4601 36.1295 2.4770 0.0010 10.8021 0.0004
JARAK 3.1229 9.6706 1.0085 0.0483 3.8990 0.0498
INCOME(1) 4.3055 15.0455 1.2321 0.0222 5.2300 0.0178
INCOME(2) 13.4789 61.0090 2.9779 0.0007 11.4006 0.0003
BIAYA(1) 0.0804 0.3956 0.0163 0.0019 9.6107 0.0020
BIAYA(2) 12.8808 48.5421 3.4180 0.0002 14.2557 0.0000
BIAYA(3) 449.8124 6367.4792 31.7757 0.0000 20.4117 0.0000
KOLEKTIF 12.3587 34.7753 4.3291 0.0000 22.6908 0.0000

Tabel 1.  menunjukkan bahwa  terdapat   tujuh (7) variabel  yang mempunyai pengaruh bermakna  (p < 0,05)  terhadap pemilihan penolong persalinan yaitu:  tingkat pendidikan (DIK), pengetahuan ibu hamil (TAHU), sikap ibu hamil terhadap ANC, jarak tempat tinggal (JARAK), pendapatan keluarga (INCOME), biaya persalinan (BIAYA), dan keputusan kolektif dalam keluarga (KOLEKTIF).

Pembahasan

Uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu hamil berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan (p = 0,0006).  Ibu hamil  yang berpendidikan > 6 tahun mempunyai kemungkinan 4,1388 kali lebih banyak memilih  penolong persalinan NAKES  di banding  hamil yang    berpendidikan  6 tahun.

Tabulasi silang antara variabel tingkat pendidikan dan penolong persalinan  pada Tabel 2.

Tabel  2.    Distribusi Responden menurut Tingkat Pendidikan dan Penolong Persalinan

Tingkat Pendidikan C.     Jumlah
SD/Tidak Sekolah SLTP/SMU/

SMK

Penolong Persalinan Non NAKES 157

(31.70 %)

83

(17.18 % )

240

(49.08 %)

NAKES 52

(11.04 % )

197

(39.06 % )

249

(50.92 %)

Jumlah

209

(42.74 %)

280

(57.26%)

489

(100 %)

Tabel 2. menunjukkan bahwa  ibu-ibu yang berpendidikan tinggi cenderung memilih penolong persalinan NAKES daripada  dukun.  Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil, maka semakin tinggi kecenderungan memilih penolong persalinan pada tenaga kesehatan (NAKES).

Survey yang dilakukan Soemanto, dkk (1994)  di Boyolali  dan Purwodadi menunjukkan semakin tinggi  tingkat pendidikan ibu  cenderung memilih  penolong kelahiran di bidan. Sedangkan penelitian yang dilakukan Muh. Arif dan Chusnul (1997) pada 118 orang ibu hamil di Kec. Singosari Kab. Malang menunjukkan makin tinggi tingkat pendidikan responden, makin baik kualitas ANC dan pertolongan persalinannya, di mana pada  responden yang tidak sekolah 50 % memilih dukun sebagai penolong persalinan. Keadaan ini senada dengan analisis hasil SDKI 1994 (Sarimawar, 2001) bahwa  77 % persalinan di pedesaan yang ditolong dukun, mayoritas dialami oleh ibu-ibu yang berpendidikan rendah.

Hasil survey di India  terhadap 4.745 ibu hamil menunjukkan bahwa pendidikan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan pelayanan ANC dan persalinan, di mana ibu hamil yang  memilih  pelayanan ANC dan persalinan oleh dokter sebanyak 65,8% berpendidikan PT, 42,8 % berpendidikan Sekolah Lanjutan,  dan 22,3 % responden  berpendidikan setingkat SD dan hanya 9,5 % yang tidak sekolah (Vaessen, 2002).

Dari penelitian dan beberapa studi di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu hamil sangat berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan.

Selain tingkat pendidikan faktor lain yang berpengaruh  terhadap pemilihan penolong persalinan adalah:

a.   Pengetahuan  ibu  tentang risiko kehamilan dan persalinan

Ibu hamil yang  pengetahuannya baik kemungkinannya  13,7848 kali lebih banyak memilih  NAKES sebagai penolong persalinan dibanding ibu hamil yang    pengetahuannya kurang.

b.    Sikap  ibu terhadap ANC

Ibu hamil dengan sikap terhadap ANC baik 9,4601 kali lebih banyak  memilih NAKESdibandingkan  ibu hamil  dengan sikap kurang baik.

c.    Jarak ke pelayanan kesehatan

Ibu hamil  yang  jarak tempat tinggalnya dekat (<  3 km)  dari pusat pelayanan kesehatan 3,1229 kali lebih banyak memilih  penolong persalinan NAKES  dibanding ibu hamil  yang jarak tempat tinggalnya jauh ( ³ 3 km).

d.    Pendapatan keluarga

1).   Ibu hamil dengan pendapatan keluarga  Rp. 200.000,00 – Rp. 500.000,00 mempunyai kemungkinan 4,3055 kali lebih banyak memilih NAKES sebagai penolong persalinannya,  dibanding ibu hamil dengan pendapatan keluarga < Rp. 200.000,00.

2).   Ibu hamil dengan pendapatan keluarga > Rp. 500.000,00 mempunyai kemungkinan 13,4789 kali lebih banyak memilih NAKES dibanding ibu hamil yang pendapatan keluarganya   < Rp. 200.000,00.

e.    Biaya persalinan

1).   Ibu hamil  dengan biaya persalinan > Rp. 200.000,00 selama 36 hari mempunyai kemungkinan 0,08 kali (lebih  kecil)  ditolong  NAKES dibanding ibu hamil yang  biaya persalinannya  < Rp. 200.000,00 selama 36 hari;

2).   Ibu hamil  dengan  biaya persalinan  <  Rp. 200.000,00  untuk persalinan saja, 12 kali lebih banyak  ditolong NAKES dibanding ibu hamil yang  biaya persalinannya <Rp. 200.000,00 selama 36 hari;

3).   Ibu hamil  dengan  biaya persalinan > Rp. 200.000,00  untuk persalinan saja, 449 kali  lebih banyak  memilih penolong persalinan NAKES dibanding ibu hamil yang  biaya persalinannya  < Rp. 200.000,00 selama 36 hari.

f.     Pengambilan keputusan kolektif dalam keluarga

Ibu hamil yang ikut memutuskan  penolong persalinan bersama-sama keluarga (suami, orangtua, dan mertua) mempunyai kemungkinan 12,3587 kali lebih banyak memilih NAKES, dibandingkan jika menyerahkan keputusannya keluarga.

KESIMPULAN

Ibu hamil  yang berpendidikan lebih  dari 6 tahun lebih banyak memilih  penolong persalinan NAKES  di banding  hamil yang   tidak sekolah  atau yang tamat  SD.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan, antara lain: pengetahuan, sikap, jarak tempat tinggal,  pendapatan keluarga, biaya persalinan, dan keberhasilan pertolongan sebelumnya.

SARAN

Perlunya  peran serta pemerintah, masyarakat dan keluarga dalam membantu program-program penurunan AKI dan AKB. Selain itu perlu dilakukan kajian dengan lingkup yang lebih luas  untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan berbagai sudut pandang dan metode analisis.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: