Instrumen_Paru

Uji Fungsi Paru

Volume Ekspirasi Paksa pada satu detik (VEP1) dan Kapasitas Vital Paksa (KVP) mengalami penurunan. Penyempitan dari lumen bronkus dapat dinilai dari penurunan VEP1/KVP ini. Pemberian ß2 agonis hanya dapt meningkatkan perbandingan VEP1 dan KVP ini menjadi kurang dari 20%. Pada empisema Kapasitas Total Paru akan mengalami peningkatan, di mana dapat ditentukan dengan spirometri. Akan tetapi angka dengan spirometri lebih tinggi dibandingkan dengan teknik napas tunggal.

Pemeriksaan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dengan alat Peak Flow Rate Meter. Variasi diurnal atau perbedaan nilai APE antara malam hari dan pagi berikutnya. APE diukur pada malam hari sesudah pemberian bronkodilator (bila pasien menggunakan bronkodilator), dan pagi hari berikutnya sebelum pemberian bronkodilator. Perbedaan nilai APE dinyatakan sebagai variasi diurnal atau variabilitas harian. Bila nilai APE atau VEP1 meningkat kurang dari 15% sesudah inhalasi menunjukkan adanya irreversibilitas penyakit.

Instrumen

  • a.  Definisi: fungsi paru adalah kondisi kesehatan paru. Untuk mengukur fungsi paru diperlukan alat ukur yang disebut spirometer dengan parameter Forced Expiratory Volume in First Second (FEV1) yaitu volume udara yang dikeluarkan pada detik pertama dimulai dengan hembusan napas kuat pada pernapasan penuh dan Forced Vital Capacity (FVC) yaitu jumlah maksimum udara dalam liter yang dapat dimasukkan dalam paru-paru secara paksa dan dengan cepat mengeluarkan napas diikuti pernapasan secara maksimum, diukur dalam persentase (FVC% dan FEV1%). (Priory Lodge Education Limited, 1997; Warner and Petty, 2001)
  • b.  Alat Ukur: Spirometer
  • c. Skala Pengukuran: fungsi paru diukur dengan skala interval. Kemudian untuk analisis, skala interval ditransformasi menjadi skala nominal, sebagai berikut:
  • Normal, dengan besar  FVC% ≥ 70% dan  FEV1% ≥ 80%.
  • Tidak normal, dengan nilai Obstruktif (FEV1% <80%), restriktif (FVC% < 70%) dan kombinasi (FVC% < 70% dan  FEV1% < 80%.)
%d blogger menyukai ini: