Diabetes Mellitus_Kesehatan

Diabetes Mellitus

a. Pengertian

Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk dihati dari makanan yang dikonsumsi. Insulin, yaitu suatu hormon yang diproduksi pankreas. Mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan mengatur produksi dan penyimpanannya (Suzanne C, 2001).

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.

Menurut kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa ≥126 mg/dL pada plasma vena dan ≥100 mg/dL pada darah kapiler sedangkan gula darah sewaktu ≥200 mg/dL pada plasma vena dan ≥200 pada darah kapiler.

Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya (Soegondo, 2008).

Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. Ada cara lain untuk menurunkan kadar gula darah yaitu dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga karena otot menggunakan glukosa dalam darah untuk dijadikan energi (Soegondo, 2008).

b. Penyebab DM

DM atau kencing manis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh karena peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif. Absolut berarti tidak ada insulin sama sekali sedangkan relatif berarti jumlahnya cukup/memang sedikit tinggi atau daya kerjanya kurang. Hormon Insulin dibuat dalam pankreas.

Ada 2 macam type DM (Depkes RI, 2003):

1). DM type I. atau disebut DM yang tergantung pada insulin. DM ini disebabkan akibat kekurangan insulin dalam darah yang terjadi karena kerusakan dari sel beta pankreas. Gejala yang menonjol adalah terjadinya sering kencing (terutama malam hari), sering lapar dan sering haus, sebagian besar penderita DM type ini berat badannya normal atau kurus. Biasanya terjadi pada usia muda dan memerlukan insulin seumur hidup.

2). DM type II atau disebut DM yang tak tergantung pada insulin. DM ini disebabkan insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik, kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak ada/kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, 75% dari penderita DM type II dengan obesitas atau sangat kegemukan dan biasanya diketahui DM setelah usia 30 tahun.

Klasifikasi etiologis DM menurut konsensus PERKENI, 2006:

1). DM Tipe 1:

Destruksi sel beta umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut:

a. Autoimun

b. Idiopatik

2). DM Tipe 2:

Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin.

3). DM Tipe lain:

a. Defek genetik fungsi sel beta

b. Defek genetik kerja insulin

c. Penyakit eksokrin pankreas

d. Endokrinopati

e. Karena obat atau zat kimia

f. Infeksi

g. Sebab imunologi yang jarang

e. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM

4). Diabetes Mellitus Gestasional

c. Patofisiologi

Diabetes Mellitus adalah keadaan dimana tubuh tidak menghasilkan atau memakai insulin sebagaimana mestinya. Insulin adalah hormon yang membawa glukosa darah kedalam sel-sel dan menyimpannya sebagai glikogen. Insulin memegang peranan penting yaitu berfungsi memasukkan glukosa kedalam sel untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pankreas. Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa dialirkan menjadi tenaga, bila insulin tidak aktif maka glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel, tetapi berada didalam pembuluh darah sehinng kadar gula didalam darah akan meningkat, dalam keadaan ini badan akan terasa lemah karena tidak adanya sumber tenaga didalam sel.

Karena terdapat  defisiensi insulin dan penyerapan glukosa didalam sel terhambat serta metabolismenya terganggu, maka keadaan  ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada didalam sirkulasi darah sehingga kadar gula darah menjadi meningkat.

d. Gejala-gejala

Gejala klinis yang khas pada DM yaitu “Triaspoli” polidipsi (banyak minum), poli phagia (banyak makan) & poliuri (banyak kencing), disamping disertai dengan keluhan sering kesemutan terutama pada jari-jari tangan, badan terasa lemas, gatal-gatal dan bila ada luka sukar sembuh. Kadang-kadang berat badan menurun secara drastis.

e. Penatalaksanaan

Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus   (Konsensus PERKENI, 2006):

1). Edukasi

DM tipe 2 umumnya terjadi pada saat gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. Keberhasilan pengelolaan diabetes mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi.

Edukasi yang diberikan kepada pasien meliputi pemahaman tentang perjalanan penyakit DM, makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM, penyulit DM dan resikonya, intervensi farmakologis dan non farmakologis serta target perawatan, interaksi antara ( asupan makanan, aktifitas fisik, dan obat anti hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obat lain), Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tak tersedia), megatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit atau hipoglikemia, pentingnya latihan jasmani yang teratur, malah khusus yang dihadapi (mis: hiperglikemi pada kehamilan), pentingnya perawatan diri, dan cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.

Edukasi dapat dilakukan secara individual dengan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah. Seperti halnya dengan proses edukasi, perubahan perilaku memerlukan perencanaan yang baik, implementasi, evaluasi dan dokumentasi.

Hingga saat ini, belum ada obat yang menyembuhkan penyakit Diabetes Mellitus. Namun pengidapnya tetap bisa hidup nyaman dan berumur panjang, karena penyakit diabetes bisa dikendalikan. Yang dibutuhkan hanyalah kedisiplinan mengikuti langkah-langkah pengelolaan diabetes. Dalam edukasi atau penyuluhan, yang perlu diperhatikan adalah pengidap diabetes harus memahami penyakitnya, sehingga tatu pula cara yang tepat mengatasi diabetes (Kompas,2003).

2). Terapi gizi medis

Terapi gizi medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total, Setiap diabetisi sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai target terapi, prinsip pengaturan makan pada diabetisi hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu, juga perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan ( jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin).

3). Latihan jasmani

Kegiatan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam penatalaksanaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga, dan berkebun harus tetap dilaksanakan.

Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan  memperbaiki sensifitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki, bersepeda santai, jogging dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan.

Pada waktu latihan jasmani otot-otot tubuh, sistem jantung dan sirkulasi darah serta pernafasan diaktifkan. Oleh sebab itu metabolisme tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa harus menyesuaikan diri. Otot-otot akan menggunakan asam lemak bebas dan glukosa sebagai sumber tenaga (energi). Bila latihan jasmani dimulai glukosa yang berasal dari glikogen di otot-otot pada waktu latihan jasmani mulai dipakai sebagai sumber tenaga. Apabila latihan jasmani terus ditingkatkan maka sumber tenaga dari glikogen otot berkurang, selanjutnya akan terjadi pemakaian glukosa darah dan asam lemak bebas. Makin ditingkatkan porsi olahraga makin meningkat pula pemakaian glukosa yang berasal dari cadangan glikogen hepar (Santoso, 2006).

ISPA_Kesehatan

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)

1. Pengertian  ISPA

ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut (Indah, 2005):

  1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
  2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)
  3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.  Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis  virus,  bakteri  dan  riketsia serta jamur.  Virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus influensa, virus para-influensa dan virus campak), dan adenovirus. Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi, dkk, 2004).

2.  Penyakit ISPA pada Balita

a.  Klasifikasi Penyakit ISPA

Pada tahun 1998 World Health Organization cit. Suyudi (2002) telah mempublikasikan  pola baru tatalaksana penderita ISPA. Dalam pola baru ini di samping digunakan cara diagnosis yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna juga dipisahkan antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana  penderita  penyakit infeksi akut telinga dan tenggorokan. Kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah: balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu  :

1).  Pemeriksaan

2).  Penentuan ada tidaknya tanda bahaya

3).  Penentuan klasifikasi penyakit

4).  Pengobatan dan tindakan

Penentuan klasifikasi dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan hingga < 5 tahun dan kelompok untuk umur < 2 bulan.

b. Etiologi ISPA

Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.   Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh  virus dan mikroplasma. Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis   bakteri, virus,dan jamur.  Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004).   Bakteri tersebut  di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut menyerang  anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002).

Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan virus campak), dan adenovirus.  Virus para-influensa  merupakan penyebab terbesar  dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit  demam saluran nafas bagian atas. Untuk  virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya  terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza  merupakan penyebab  terjadinya lebih banyak penyakit saluran  nafas bagian  atas daripada saluran nafas bagian bawah (Siregar dan Maulany, 95).

c.   Faktor Risiko

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat ISPA adalah umur di bawah dua bulan,  kurang gizi, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, rendahnya tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan, lingkungan rumah  imunisasi yang tidak memadai dan menderita penyakit kronis (Indah, 2005)

d. Tanda dan Gejala

Sebagian  besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian  bawah  memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat  dan retraksi dada. Semua ibu dapat mengenali batuk tetapi  mungkin tidak  mengenal  tanda-tanda lainnya dengan mudah (Harsono dkk., 1994).  Selain batuk  gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu  flu,  demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 0 Celcius dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002).

Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan  yaitu (Suyudi, 2002):

1).    ISPA ringan bukan pneumonia

2).    ISPA sedang, pneumonia

3).    ISPA berat, pneumonia berat

Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada ISPA  sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika keadaan memungkinkan misalnya pasien kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana.

1). Gejala ISPA ringan

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut :

a).    Batuk.

b).    Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).

c).    Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.

d).    Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.

Jika anak menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan di rumah tidak perlu dibawa ke dokter atau Puskesmas. Di rumah dapat diberi obat penurun panas yang dijual bebas di toko-toko atau Apotik tetapi jika dalam dua hari gejala belum hilang, anak harus segera di bawa ke dokter atau Puskesmas terdekat.

2). Gejala ISPA sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :

a).    Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.

b).    Suhu lebih dari 390C.

c).    Tenggorokan berwarna merah.

d).    Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak

e).    Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.

f).      Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.

g).    Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.

Dari gejala ISPA sedang ini, orangtua perlu hati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan, sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya kurang, umurnya empat bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan.

3).  Gejala ISPA berat

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:

a).    Bibir atau kulit membiru

b).    Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas

c).    Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun

d).    Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah

e).    Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah

f).      Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas

g).    Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba

h).    Tenggorokan berwarna merah

Pasien ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus.

e. Pencegahan ISPA

Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:

1). Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik

a).    Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.

b).    Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.

c).    Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.

d).    Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.

e).    Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk  mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.

Dinkes DKI (2005)

2). Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi

Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi  yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi DPT  salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya  adalah infeksi saluran nafas (Gloria Cyber Ministries, 2001).

3). Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya  perilaku yang tidak mencerminkan  hidup sehat akan menimbulkan  berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya  memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).

4). Pengobatan segera

Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002).

Hipertensi_kesehatan

Hipertensi


1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi berarti tekanan (ketegangan) yang tinggi dalam arteri. Arteri adalah pembuluh yang membawa darah dari jantung pemompa menuju ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Hipertensi tidak berarti ketegangan emosi yang berlebihan, meskipun ketegangan emosi dan stres dapat meningkatkan tekanan darah saat itu juga. Tekanan darah tinggi pada umumnya didefinisikan sebagai tingkat yang melebihi 140/90 mmHg yang dikonfirmasikan pada berbagai kesempatan. Tekanan darah sistolik, yang berupa angka yang di atas (140 mmHg), mewakili tekanan dalam arteri saat jantung berkontraksi  dan memompa darah ke dalam peredarannya. Tekanan diastolik yang berupa angka bawah (90 mmHg), mewakili tekanan dalam arteri saat jantung santai setelah kontraksi. Oleh karena itu, tekanan diastolik mencerminkan tekanan minimal yang dikenakan pada arteri-arteri tersebut (Gardner, 2007).

2. Proses terjadinya Hipertensi

Hipertensi terbukti sering muncul tanpa gejala. Berarti gejala bukan merupakan tanda untuk diagnostik dini. Dokter harus aktif menemukan tanda awal hipertensi, sebelum timbul gejala dan hipertensi muncul tidak dapat dirasakan atau tanpa gejala dan terjadi kelainan pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah tubuh berupa arteriosklerosis kapiler (Hayens, dkk. 2008).

Terdapat hubungan antara hipertensi, penyakit jantung koroner, dengan gagal ginjal khususnya gagal ginjal kronik. Munculnya hipertensi, tidak hanya disebabkan oleh tingginya tekanan darah. Akan tetapi, ternyata juga karena adanya faktor risiko lain seperti komplikasi penyakit dan kelainan pada organ target, yaitu jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Hipertensi sering muncul dengan faktor risiko lain yang mana sedikitnya timbul  sebagai sindrom X atau Reavan, yaitu hipertensi plus gangguan toleransi glukosa atau diabetes mellitus DM), dislipidemia, dan obesitas (Maulana,  2007).

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis (Armilawaty, Amalia; dan Amiruddin, 2007).

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati, akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari  (D’Angelo dan Min, 2007).