ISPA_Kesehatan

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)

1. Pengertian  ISPA

ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut (Indah, 2005):

  1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
  2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)
  3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.  Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis  virus,  bakteri  dan  riketsia serta jamur.  Virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus influensa, virus para-influensa dan virus campak), dan adenovirus. Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi, dkk, 2004).

2.  Penyakit ISPA pada Balita

a.  Klasifikasi Penyakit ISPA

Pada tahun 1998 World Health Organization cit. Suyudi (2002) telah mempublikasikan  pola baru tatalaksana penderita ISPA. Dalam pola baru ini di samping digunakan cara diagnosis yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna juga dipisahkan antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana  penderita  penyakit infeksi akut telinga dan tenggorokan. Kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah: balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu  :

1).  Pemeriksaan

2).  Penentuan ada tidaknya tanda bahaya

3).  Penentuan klasifikasi penyakit

4).  Pengobatan dan tindakan

Penentuan klasifikasi dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan hingga < 5 tahun dan kelompok untuk umur < 2 bulan.

b. Etiologi ISPA

Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.   Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh  virus dan mikroplasma. Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis   bakteri, virus,dan jamur.  Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004).   Bakteri tersebut  di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut menyerang  anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002).

Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan virus campak), dan adenovirus.  Virus para-influensa  merupakan penyebab terbesar  dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit  demam saluran nafas bagian atas. Untuk  virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya  terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza  merupakan penyebab  terjadinya lebih banyak penyakit saluran  nafas bagian  atas daripada saluran nafas bagian bawah (Siregar dan Maulany, 95).

c.   Faktor Risiko

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat ISPA adalah umur di bawah dua bulan,  kurang gizi, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, rendahnya tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan, lingkungan rumah  imunisasi yang tidak memadai dan menderita penyakit kronis (Indah, 2005)

d. Tanda dan Gejala

Sebagian  besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian  bawah  memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat  dan retraksi dada. Semua ibu dapat mengenali batuk tetapi  mungkin tidak  mengenal  tanda-tanda lainnya dengan mudah (Harsono dkk., 1994).  Selain batuk  gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu  flu,  demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 0 Celcius dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002).

Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan  yaitu (Suyudi, 2002):

1).    ISPA ringan bukan pneumonia

2).    ISPA sedang, pneumonia

3).    ISPA berat, pneumonia berat

Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada ISPA  sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika keadaan memungkinkan misalnya pasien kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana.

1). Gejala ISPA ringan

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut :

a).    Batuk.

b).    Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).

c).    Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.

d).    Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.

Jika anak menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan di rumah tidak perlu dibawa ke dokter atau Puskesmas. Di rumah dapat diberi obat penurun panas yang dijual bebas di toko-toko atau Apotik tetapi jika dalam dua hari gejala belum hilang, anak harus segera di bawa ke dokter atau Puskesmas terdekat.

2). Gejala ISPA sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :

a).    Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.

b).    Suhu lebih dari 390C.

c).    Tenggorokan berwarna merah.

d).    Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak

e).    Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.

f).      Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.

g).    Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.

Dari gejala ISPA sedang ini, orangtua perlu hati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan, sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya kurang, umurnya empat bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan.

3).  Gejala ISPA berat

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:

a).    Bibir atau kulit membiru

b).    Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas

c).    Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun

d).    Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah

e).    Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah

f).      Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas

g).    Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba

h).    Tenggorokan berwarna merah

Pasien ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus.

e. Pencegahan ISPA

Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:

1). Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik

a).    Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.

b).    Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.

c).    Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.

d).    Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.

e).    Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk  mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.

Dinkes DKI (2005)

2). Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi

Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi  yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi DPT  salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya  adalah infeksi saluran nafas (Gloria Cyber Ministries, 2001).

3). Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya  perilaku yang tidak mencerminkan  hidup sehat akan menimbulkan  berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya  memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).

4). Pengobatan segera

Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002).

%d blogger menyukai ini: