Bea siswa kuliah di Jepang

Rian Kun
Rian Kun6:09pm Jun 1st
Subject: Info Beasiswa
Ini info sambungan, spya lebih jelas bisa di tanyakan kpda HAOI Indonesia atau buka web di bawah ini

Salam OISCA,

Kepada kawan-kawan semua, berikut ada informasi beasiswa di Jepang,

BEASISWA PEMERINTAH JEPANG (MONBUKAGAKUSHO/MEXT) TAHUN 2012 UNTUK LULUSAN SLTA DAN SEDERAJAT
Tersedia 3 program sbb: (setiap peserta hanya bisa mendaftar 1 program saja)

1. Undergraduate (S-1) : Masa studi 5 tahun termasuk 1 tahun belajar Bahasa Jepang (kecuali jurusan kedokteran umum, gigi, hewan, dan sebagian farmasi lama masa studi adalah 7 tahun)

– Syarat: lulusan SLTA; nilai rata-rata ijazah atau rapor kelas 3 semester terakhir masing-masing minimal 8,4; lahir antara tgl. 2 April 1990 dan tgl. 1 April 1995

– Materi ujian tertulis:
IPS: Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, dan Matematika
IPA-a: Bahasa Inggris, Matematika, Kimia, dan Fisika
IPA-b,c: Bahasa Inggris, Matematika, Kimia, dan Biologi

– Pilihan jurusan:
IPS: Laws, Politics, Pedagogy, Sociology, Literature, History, Japanese language, Economics, Business Administration, and others.

IPA-a: Science (Mathematics, Physics, Chemistry); Electric and Electronic Studies (Electronics, Electrical Engineering, Information Engineering); Mechanical Studies (Mechanical Engineering, Naval Architecture);
Civil Engineering and Architecture (Civil Engineering, Architecture, Environmental Engineering); Chemical Studies (Applied Chemistry, Chemical Engineering, Industrial Chemistry, Textile Engineering); and other fields (Metallurgical Engineering, Mining Engineering, Maritime Engineering, Biotechnology)

IPA-b: Agricultural Studies (Agriculture, Agricultural Chemistry, Agricultural Engineering, Animal Science, Veterinary Medicine, Forestry, Food Science, Fisheries); Hygienic Studies (Pharmacy, Hygienics, Nursing); Science (Biology)

IPA-c: Medicine; Dentistry

2. College of Technology (D-3): Masa studi 4 tahun termasuk 1 tahun belajar Bahasa Jepang. College of Technology memiliki program 5 tahun yang dirancang bagi lulusan SLTP. Siswa penerima Beasiswa Monbukagakusho (lulusan SLTA) akan masuk College of Technology sebagai mahasiswa tahun ketiga. Studi teknik sebagian besar terdiri dari
eksperimen / percobaan dan latihan-latihan praktek. Lulusan dari sekolah ini diharapkan menjadi ahli teknik (engineer).

– Syarat: lulusan SLTA; nilai rata-rata ijazah atau rapor kelas 3 semester terakhir masing-masing minimal 8,0; lahir antara tgl. 2 April 1990 dan tgl. 1 April 1995

– Materi ujian tertulis: Matematika dan Kimia/Fisika (tergantung kategori jurusan seperti tertulis di bawah)

– Pilihan jurusan:
Kimia: Jurusan yang terkait pada bidang kimia seperti “Materials Engineering” dll.
Fisika: Jurusan lain seperti “Mechanical Engineering”, “Electrical and Electronic Engineering”,
“Information, Communication, and Network Engineering”, “Architecture and Civil Engineering”,
“Maritime Engineering” dll.

3. Professional Training College (D-2) : Masa studi 3 tahun termasuk 1 tahun belajar Bahasa Jepang. Professional Training College terpisah dari sistem pendidikan Jepang yang biasa. Sekolah ini menawarkan pelatihan praktis kejuruan.

– Syarat: lulusan SLTA; nilai rata-rata ijazah atau rapor kelas 3 semester terakhir masingmasing minimal 8,0; lahir antara tgl. 2 April 1990 dan tgl. 1 April 1995
– Materi ujian tertulis: Bahasa Inggris dan Matematika
– Pilihan jurusan: Architecture; Civil Engineering; Electrical Engineering; Electronics; Telecommunication; Nutrition; Infant Education; Secretarial Studies; Hotel Management; Tourism; Fashion and Dress making; Design; Photography; dll

Catatan:
1. Semua soal ujian dalam bahasa Inggris.
2. Lulusan dari S-1 bisa meneruskan ke S-2, dan lulusan D-3 dan D-2 bisa meneruskan ke S-1 sebagai siswa tahun ketiga. Namun untuk melanjutkan beasiswa, tergantung pada prestasi dan hasil seleksi. Para siswa tentunya harus mengikuti ujian masuk dan masa perpanjangan
beasiswa maksimal 2 tahun.

FASILITAS
1. Bebas biaya ujian masuk, biaya kuliah dan uang pendaftaran
2. Tiket kelas ekonomi p.p. Indonesia (Jakarta) – Jepang
3. Tunjangan ¥123.000/bulan (Besar tunjangan tahun 2011). Untuk tahun 2012 dan tahun selanjutnya ada kemungkinan mengalami perubahan)
4. Tanpa ikatan dinas

Prosedur Pendaftaran
1. Masa pendaftaran: Mulai tanggal 9 Mei s/d 10 Juni 2011
2. Hanya pelamar yang memenuhi persyaratan tersebut di atas yang berhak mengambil formulir yang tersedia di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta atau Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Medan, dan Makassar.
3. Formulir harus diserahkan ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta atau Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Medan, dan Makassar lengkap dengan fotokopi rapor kelas 3 semester terakhir, ijazah, dan nilai ijazah (bisa menggunakan dokumen sementara dari sekolah apabila nilai asli dari Kanwil Depdiknas belum keluar)
4. Formulir harus dikembalikan dalam 3 hari kerja.

(Khusus untuk mereka yang berada di luar JABODETABEK, Surabaya, Medan, dan Makassar)

1. Dapat melamar melalui surat yang ditujukan kepada alamat sbb;
a. Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang Jl. M.H.Thamrin 24 Jakarta 10350 Telp. 021 – 319 24308 ps. 175, 176 atau 178
b. Konsulat Jenderal Jepang Surabaya Jl. Sumatera No. 93, Surabaya Telp. 031 – 503 0008
c. Konsulat Jenderal Jepang Medan Wisma BII Lt. 5, Jl. P. Diponegoro No. 18, Medan Telp. 061 – 457 5193
d. Konsulat Jenderal Jepang Makassar Jalan Jenderal Sudirman No. 31, Makassar Telp. 0411-871 030, 872 323, 851 882
2. Lampirkan fotokopi: rapor kelas 3 semester terakhir, ijazah, dan nilai ijazah (bisa menggunakan dokumen sementara dari sekolah apabila nilai asli dari Kanwil Depdiknas belum keluar).
3. Yang harus dicantumkan dalam surat lamaran: nama lengkap, tempat & tanggal lahir, alamat lengkap dan nomor telepon/HP(agar dapat dihubungi jika diperlukan), program yang akan diikuti (S-1, D-3, atau D-2), dan 3 (tiga) bidang studi yang ingin dipelajari.
4. Dengan mengirimkan semua dokumen tersebut, kami anggap sah sebagai pengganti formulir (tidak perlu mengisi formulir pendaftaran).

PROSEDUR SELEKSI
1. Bagi yang lolos praseleksi (seleksi dokumen) akan dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis (bulan Juli). Praseleksi dilakukan berdasarkan nilai ijazah dan rapor.
2. Mereka yang lulus ujian tertulis akan dipanggil untuk wawancara di Jakarta (dalam bahasa Indonesia) (bulan Agustus). Bagi yang lulus wawancara akan direkomendasikan ke Monbukagakusho
3. Mereka yang lolos seleksi di Monbukagakusho akan menjadi penerima beasiswa. Penetapanpenerima beasiswa ditentukan pada bulan Januari 2012.

sumber: Kedutaan Besar Jepang di Indonesia
http://www.facebook.com/l/627e3pDXQH_84qMvxO38LZgbpTg/www.id.emb-japan.go.jp/slta12.PDF

ANALISIS DETERMINAN PERBEDAAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SMP DI KOTA SURAKARTA (Ditinjau dari Karakteristik Individu, Karakteristik Organisasi, dan Kebijakan Pemerintah)

ABSTRAKSI

ANALISIS DETERMINAN PERBEDAAN KOMPETENSI  PROFESIONAL GURU  SMP DI KOTA SURAKARTA (Ditinjau dari Karakteristik Individu, Karakteristik Organisasi, dan Kebijakan Pemerintah). Program Pasca Sarjana Program  Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Maret. 2007.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mengidentifikasi perbedaan kompetensi profesional guru SMP di kota Surakarta. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kompetensi profesional guru, sedangkan variabel terikat: pengalaman kerja, pelatihan, iklim sikap pada pekerjaan, iklim orgranisasi,  kepemimpinan, perubahan kurikulum dan sertifikasi guru. Populasi penelitian adalah guru SMP baik negeri maupun swasta di Surakarta. Sampel diambil dengan teknik Cluster menurut wilayah kecamatan dan  terkumpul responden 205 orang. Pengumpulan data menggunakan angket. Untuk variabel kompetensi profesional guru menggunakan Instrumen Sertifikasi Guru (Self Appraisal & Portofolio) terbitan Depdiknas, 2006. Teknik analisis data dengan Analisis Diskriminan menggunakan Program SPSS 15 Evaluatin Version. Pengujian hipotesis melalui beberapa asumsi: variabel bebas berdistribusi normal, tidak terjadi multikolinear, tidak ada korelasi mean dan standar deviasi dan homogenitas matriks kovarian.

Hasil uji hipotesis menunjukkan: (1)  terdapat 4 variabel yang secara signifikan (p = 0,05) mampu mengidentifikasi perbedaan kompetensi profesional guru sebagai berikut: (a) Pengalaman kerja (p = 0,008; Wilks’ Lamda = 0,966; F = 7,218); (b) Pelatihan (p = 0,000; Wilks’ Lamda = 0,934;   F = 14,269; (c) iklim  organisasi (p =  0,000; Wilks’ Lamda = 0,942; F = 12,565); (d) Kepemimpinan (p =  0,004; Wilks’ Lamda = 0,959; F = 8,654); (2) Variabel yang tidak signifikan (p > 0,05) adalah: (a) sikap pada pekerjaan  (p =  0,477; Wilks’ Lamda = 0,998; F = 0,507); (b) perubahan kurikulum (p =  0,055; Wilks’ Lamda = 0,982; nilai F = 3,714); (c) sertifikasi guru (p = 0,158; Wilks’ Lamda = 0,990; nilai F = 2,012); (3) pelatihan merupakan variabel  paling dominan yang dapat  mengidentifikasi perbedaan kompetensi profesional guru; (4) variabel pengalaman kerja, pelatihan, sikap pada pekerjaan, iklim organisasi, kepemimpinan, perubahan kurikulum dan sertifikasi guru secara bersama-sama dan signifikan dapat mengidentifikasi perbedaan kompetensi profesional guru (Wilk’s Lambda = 0,855; Chi-square = 31,142 dan p = 0,000); (5) Persamaan fungsi diskriminan: Z = 0,040 pengalaman kerja + 0,678 pelatihan – 0,114 sikap pada pekerjaan + 0,164 iklim organisasi + 0,058 kepemimpinan  – 0,042 perubahan kurikulum + 0,048 sertifikasi guru -3,215; (6)  Kontribusi variabel bebas terhadap kompetensi profesional guru secara bersama-sama sebesar 38%, dengan ketepatan klasifikasi tinggi sebesar 67,3%.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai upaya  peningkatan kompetensi profesional guru adalah: (1) pembinaan pelatihan dan pengembangan profesional (terutama penulisan PTK) yang terintegrasi, merata dan berkesinambungan (2) penyediaan fasilitas dan peningkatan pemanfaatan tehnologi untuk media pembelajaran (Komputer, LCD, internet), (3) membangun  iklim kondusif dan terbuka, pemberian kepercayaan dan  kesempatan, serta transaparansi oleh Kepala Sekolah  menyangkut perencanaan program-program sekolah (5) Perlunya sosialisasi yang memadai berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pendidikan, sehingga bisa direspon positif oleh guru.

________________________________________________________

Kata kunci: kompetensi profesional, pengalaman kerja, pelatihan, iklim organisasi, kepemimpinan, perubahan kurikulum & serifikasi guru

*) Download:

1.  COVER

2.  BAB I

3.  BAB II

4. BAB III

5. BAB IV_1

6. BAB IV_2

Implementasi Kebijakan MBS di SD

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

DI SEKOLAH DASAR NEGERI I WONOGIRI

ABSTRAK

Rusiati, NIM: Q100040027. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 WONOGIRI. Tesis Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun 2006.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan implementasi kebijakan MBS di Sekolah Dasar Negeri I Wonogiri dapat mendorong peningkatan prestasi belajar murid.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode postpositivistik, yaitu pencarian makna di balik data. Topik riset diarahkan pada kondisi aslinya di mana subyek penelitian berada. Kondisi subyek sama sekali tidak disentuh oleh perlakuan (treatment) yang dikendalikan oleh peneliti seperti halnya penelitian eksperimental. Peneliti melibatkan diri dan menghabiskan waktunya secara mendalam dalam mengumpulkan data secara langsung. Penelitian ini tertarik pada perilaku manusia sehari-hari dalam keadaan rutin secara apa adanya. Tehnik pengambilan sampel yang dilakukan adalah snow ball sampling dengan jumlah sampel sebanyak 4 orang informan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini untuk dapat memperoleh suatu pemahaman yang mendalam terhadap obyek penelitian yang diamati, maka pengumpulan data dilakukan dengan cara: (1). Pengamatan, (2). Pengamatan terlibat, (3). Wawancara dengan pedoman, dan (4). Kajian dokumen. Teknik analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) Implementasi MBS di Sekolah Dasar Negeri I Wonogiri telah berjalan dengan baik khususnya tercapainya Misi dan Visi Sekolah. Keterbukaan manajemen SD Negeri 1 menyangkut program dan dana sudah cukup baik. Kinerja sekolah menunjukkan keberhasilan setelah diberlakukannya program MBS dengan meningkatnya prestasi siswa baik prestasi akademik maupun kegiatan mengikuti lomba-lomba non akademik, dan (2).Terdapat peningkatan kepercayaan masyarakat kepada sekolah, yang dapat dilihat dari peningkatan jumlah pendaftar dan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap program-program sekolah. Terbukti dengan ditambahnya ruang/kelas sebanyak 5 kelas dan tercapainya program-program yang diagendakan dalam program jangka menengah SDN 1 Wonogiri.

________________________________________________________________

Kata kunci:  Program MBS –  Implementasi Kebijakan – Peningkatan Prestasi   Siswa.

*)  Untuk naskah Full Text (silahkan download di sini) .doc

*) Presentasi   (silahkan download di sini). ppt

Skripsi FKIP

PERANAN   LAYANAN    INFORMASI    BIDANG   KARIR  SENI  DAERAH  DALAM   MENINGKATKAN   PRESTASI   BELAJAR   SENI   DAERAH SISWA KELAS II  SEKOLAH MENENGAH  PERTAMA  NEGERI 25 SURAKARTA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2004/2005

ABSTRAK

Sri Handayani Budi Astuti. Peranan Layanan Informasi Bidang Karir  Seni Daerah dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Seni Daerah Siswa Kelas II Sekolah Menengah Pertama Negeri 25 Surakarta Semester I Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi,  Sukoharjo: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,  Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Pebruari 2005

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh antara layanan informasi bidang karir seni daerah terhadap peningkatan prestasi belajar seni daerah siswa kelas II SMP Negeri 25 Surakarta Tahun Pelajaran 2004/2005. Sejalan dengan tujuan tersebut, penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas II SMP Negeri 25 Surakarta  tahun pelajaran 2004/2005 yang berjumlah 217 siswa dan terdiri dari 6 kelas. Tehnik pengambilan sampel yang dilakukan adalah tehnik cluster random sampling sebanyak 2 kelas yaitu kelas II A sebanyak 39 siswa sebagai kelompok eksperimen   dan kelas II B sebanyak 39 siswa sebagai kelompok kontrol. Metode pengumpulan data pada penelitian ini tes (pre-tes dan pos-tes). Teknik analisis yang digunakan adalah Uji Beda Mean (Uji-t).

Hasil penelitian menunjukkan: Ada pengaruh pemberian layanan informasi bidang karir seni daerah terhadap prestasi belajar seni daerah siswa kelas II SMP Negeri 25 Surakarta tahun pelajaran 2004/2005. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari thitung (2,05)  > t tabel (ttabel antara  1,67 dan 1,66).  Selain  rata-rata peningkatan prestasi belajar kelompok eksperimen lebih besar ( 0,908) dibandingkan rata-rata peningkatan prestasi belajar kelompok kontrol (0, 682).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa  pemberian layanan informasi bidang karir seni daerah lebih efektif dalam memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar seni daerah sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Sehubungan dengan hasil penelitian ini disarankan agar guru bidang studi seni daerah secara efektif dapat  mendorong siswanya memperluas pengetahuan dan wawasan untuk pengembangan seni daerah  dalam hal ini seni tari di kota Surakarta.

PTK_Bahasa Indonesia

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MEMBACA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN ASISTENSI (ASSISTED LEARNING)

(Suatu Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII Sekolah Menengah

Pertama 3 Colomadu Kabupaten Karanganyar)

Oleh: DEVINA ARIA SARI (2009)

ABSTRAK

Latar belakang penelitian ini adalah Assisted learning mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan kognitif individu. Perkembangan kognitif terjadi melalui interaksi dan percakapan seorang anak dengan lingkungan sekitarnya, baik dengan teman sebaya, orang dewasa atau orang lain dalam lingkungannya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar membaca mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri 3 Colomadu Tahun Pelajaran 2007/2008 melalui model pembelajaran asistensi. Metode penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah peneliti sendiri, guru bahasa Indonesia yaitu Ibu Rominah dan siswa kelas  VII E SMP Negeri 3 Colomadu Kabupaten Karanganyar.

Hasil penelitian ini menunjukkan pembelajaran dengan metode pembelajaran asistensi mampu meningkatkan motivasi anak untuk gemar membaca sebesar 46,6% dan 1,5% atau rata-rata meningkat 24 %. Dengan melihat antusiasme anak dalam membaca menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pembelajaran asistensi mampu meningkatkan motivasi anak untuk gemar membaca dengan peningkatan 24% perbulan. Peningkatan prestasi belajar siswa dari siklus awal terhadap siklus akhir menunjukkan peningkatan sebesar 10% dan 8% atau rata-rata 9%.

Kesimpulan yang diperoleh dalam peneltian ini adalah sebagai berikut: (1) Penerapan metode assistensi meningkatkan minat terhadap pelajaran membaca Bahasa Indonesia pada siswa kelas VII E SMP Negeri 3 Colomadu Karanganyar Tahun Pelajaran 2007/2008 sebesar 24% dan (2) Prestasi belajar membaca siswa  dengan pemberian metode asistensi pada siswa kelas VII E SMP Negeri 3 Colomadu Karanganyar Tahun pelajaran 2007/2008 meningkat sebesar 9%.

____________________________________________________________________

Kata Kunci: Model pembelajaran, asistensi, prestasi siswa meningkat

Penelitian Tindakan Kelas

PEMBERIAN METODE UMPAN BALIK DENGAN MENUMBUHKAN RASA SENANG DAN NYAMAN BELAJAR MATEMATIKA, SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS 6 PADA KONSEP PERKALIAN DAN PEMBAGIAN DI SD NEGERI PLALAN 2 KEC. SERENGAN KOTA SURAKARTA

Oleh: SUWARTO, S.Pd

SD NEGERI PLALAN 2 SURAKARTA 2006

HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sayangnya, untuk mencapai tujuan mulia tersebut masih ditemui banyak hambatan. Masalah pokok berkaitan dengan pendidikan yang banyak disoroti adalah soal rendahnya mutu pendidikan. Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan ditunjukkan oleh rendahnya prestasi belajar siswa di sekolah. Pada konteks pelajaran Matematika khususnya di Sekolah Dasar (SD) rendahnya prestasi belajar tidak hanya pada aspek kemampuan untuk mengerti matematika sebagai pengetahuan, tetapi juga aspek rendahnya sikap terhadap matematika. Pada aspek sikap siswa, selama ini banyak siswa yang menganggap pelajaran Matematika sebagai momok yang menakutkan. Hal ini berkaitan dengan karakteristik Matematika yang abstrak, sehingga siswa kurang berminat tehadap pelajaran Matematika sehingga prestasi belajarnya rendah.

Berkaitan dengan materi matematika yang abstrak, maka pembelajaran matematika juga harus disesuaikan dengan perkembangan anak SD. Hal ini diungkapkan ahli pendidikan matematika Dr H Djaali dari IKIP Jakarta saat dikukuhkan sebagai guru besar tetap pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Jakarta (Kompas, 6 Mei 1999). Menurut Djaali, pembelajaran matematika di SD harus disesuaikan dengan perkembangan kesiapan intelektual anak. Juga perlu kesesuaian antara banyaknya materi yang ada dalam kurikulum dengan alokasi waktu yang tersedia dan disesuaikan dengan perkembangan intelektual atau struktur kognitif dan pengalaman belajar yang telah diperoleh anak.

Selain materi yang abstrak, kelemahan pengajaran Matematika di SD selama ini juga belum mengarah kepada permasalahan sederhana di lingkungan anak. Menurut Dr Ida Karnasih, MSc dri IKIP Medan (Kompas, 17 Mei 1999) pengajaran matematika di SD seharusnya mengarah kepada problem solving dengan mengambil contoh-contoh sederhana yang terjadi dalam keseharian lingkungan si murid. Bukan sebaliknya, mengajarkan formula-formula, rumus-rumus atau hafalan-hafalan yang mengarahkan murid bukan kepada pemahaman atau pengertian konsep matematika, seperti yang dialami murid SD selama ini. Itu sebabnya mereka kesulitan dan sering tidak mengerti makna konsep yang diajarkan. Padahal, matematika itu harus konkret dalam penerapan konsepnya.

Banyak pakar mengungkapkan, sumber daya manusia (guru) merupakan faktor kunci keberhasilan pengajaran. Dalam pembelajaran Matematika guru merupakan kunci utama keberhasilan. Faktor sumber daya manusia (guru), merupakan komponen utama dalam pendidikan, karena guru merupakan ujung tombak pembelajaran di sekolah. Soal pengajaran matematika sangat berkait dengan kemauan para guru dalam mengajar. Persoalannya, di sini di samping guru tidak mampu karena memang kurang belajar, juga disebabkan kurangnya penghargaan terhadap guru secara finansial.

Selama ini banyak yang mengklaim akibat minimnya kesejahteraan, menyebabkan guru tidak bisa mengembangkan diri sehingga tidak kreatif. Masih banyak guru yang mengajar tidak menarik (hanya teacher telling). Guru aktif mentransfer pengetahuan dan siswa hanya menerima secara pasif. Selain itu padatnya kurikulum juga menyebabkan guru sulit mencoba berbagai variasi metode pembelajaran sehingga terkesan membosankan di depan siswa. Hal ini akan menyebabkan siswa kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran matematika atau bahkan tidak menyenangi mata pelajaran tersebut, sehingga prestasi belajarnya rendah.

Kondisi ini juga banyak penulis alami di tempat tugas penulis yaitu di SD Negeri Plalan 2 Kecamatan Serengan Surakarta. Untuk itu penulis berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut dengan melakukan pendekatan pembelajaran dengan pemberian umpan balik sehingga dapat menumbuhkan minat dan rasa senang siswa terhadap pelajaran matematika.

B. Permasalahan

1. Masalah.

Berdasarkan hasil belajar, pengamatan dan fenomena sehari-hari yang penulis temui masalah yang ada di SD Plalan 2 Kecamatan Serengan adalah sebagian besar siswa kelas 6 tidak senang dan kurang berminat terhadap pelajaran matematika sehingga hasil belajarnya rendah.

2. Alternatif Pemecahan Masalah

Berdasarkan masalah yang ada penulis berusaha mengajukan alternatif pemecahan masalah tersebut dengan metode umpan balik (pendekatan kasih sayang dan tutor sebaya) untuk menumbuhkan rasa senang terhadap pelajaran matematika.

3. Ruang Lingkup

Mengingat luasnya cakupan materi pelajaran Matematika penulis hanya membatasi pada materi pembagian dan perkalian pada siswa kelas 6.

4. Perumusan Masalah

Apakah dengan pemberian umpan balik dapat menumbuhkan minat dan rasa senang terhadap pelajaran Matematika pada siswa kelas 6 SD Plalan 2 Kecamatan Serengan Kota Surakarta tahun pelajaran 2005/2006?

C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah instrumen dipersiapkan, maka langkah awal penelitian tindakan kelas adalah memberikan tes untuk mengukur kemampuan awal yang dimiliki siswa. Dari hasil tes awal tersebut siswa telah mencapai nilai tuntas belajar 52,38%, dengan rata-rata sebesar 4,93. Untuk mengetahui minat siswa terhadap pelajaran matematika diberikan angket. Dari angket diperoleh data awal yaitu sebesar 23,81% siswa minat terhadap pelajaran matematika. Jadi siswa yang masih kurang minat sebesar 76,19%. Dari data awal di atas dapat digunakan sebagai nilai awal siswa sebelum dilakukan tindakan kelas. Maka selanjutnya kami uraikan hasil penelitian tindakan kelas untuk memecahkan masalah rendahnya nilai matematika melalui strategi metode pembelajaran umpan balik dan menumbuhkan belajar nyaman dan menyenangkan.

  1. Siklus I

Pembelajaran umpan balik dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun dan diamati kepala sekolah sebagai observer. Pada penelitian tindakan kelas pada siklus I sebagai berikut:

1. Hasil penelitian

Peneliti melakukan pembelajaran seperti dalam program semester, siswa sudah diberikan materi hingga semester II. Hal ini untuk mengkondisikan bahwa semsester II tinggal pengulangan dan drill terhadap materi yang ada.

Pada siklus I, prestasi belajar siswa dapat ditunjukkan pada tabel 1. berikut ini:

Tabel 1. Minat belajar Siswa, Ketuntasan belajar dan rata-rata ulangan harian pada siklus I

No

Uraian

Sebelum PTK

Siklus I

Peningkatan

1.

Minat belajar

23,81%

47,62%

100,00%

2.

Ketuntasan

52,38%

76,19%

45,45%

3.

Rata-rata

4.93

5.20

5,47%

2. Pembahasan

Setelah diperiksa ternyata terjadi peningkatan minat belajar siswa dari 5 anak (23,81 %) menjadi 10 anak (47,62 %), peningkatan ketuntasan belajar dari 11 anak (52,38%) menjadi 16 anak (76,19%), dan peningkatan rata-rata dari 4,93 menjadi 5,20.

3. Kesimpulan

Dengan berakhirnya tindakan kelas pada siklus I disimpulkan sebagai berikut:

a. Adanya peningkatan minat siswa terhadap pelajaran matematika sebesar 100%

b. Rerata hasil belajar siswa meningkat sebesar 5,47%

c. Siswa mencapai ketuntasan belajar meningkat mencapai 45,45%

d. Siswa aktif dalam pembelajaran di kelas sehingga suasana menjadi konduktif.

4. Refleksi

Untuk menyusun rencana tindakan kelas pada siklus II, perlu refleksi tindakan pada siklus I. Dari hasil diskusi guru mata pelajaran dengan kepala sekolah pada akhir kegiatan siklus I diperoleh masukan sebagai berikut:

a. Konsep dasar perkalian dan pembagian belum dikuasai sebagaian besar siswa secara matang.

b. Latar belakang orang tua siswa yang cenderung apatis dan menyerahkan tanggungjawab sepenuhnya kepada sekolah terhadap kemajuan prestasi belajar anak-anaknya.

c. Siswa mayoritas masih belum senang dengan matematika

  1. Siklus II

Pada siklus II guru mata pelajaran masih melakukan langkah-langkah pemecahan masalah pada siklus I ditambah ditambah penekanan pada tindakan kelas pada siklus II. Langkah-langkah yang diambil sebagai berikut:

1. Mengadakan pengulangan materi pelajaran kelas dibawahnya

2. Memberikan materi matematika dengan prinsip dari mudah ke sukar, dari sederhana ke komplek, dan dari abstrak ke kongkrit.

3. Membentuk tutor sebaya yang bertugas memberikan bimbingan kepada teman yang belum menguasai konsep perkalian dan pembagian.

4. Guru memfasilitasi dengan peraga benda kongkrit untuk dihubungkan ke dalam kehidupan sehari-hari (pembelajaran bermakna).

5. Guru mendesain materi yang belum dikuasai siswa, setelah melakukan indentifikasi.

Untuk mengetahui hasil tindakan kelas pada siklus ke II dipaparkan sebagai berikut:

1. Hasil penelitian

Dari jawaban kuesioner yang diisi oleh siswa dan pengamatan oleh guru terlihat pada Tabel 2, berikut ini:

Tabel 2. Minat belajar Siswa, Ketuntasan belajar dan rata-rata ulangan harian pada siklus II

No

Uraian

Siklus I

(%)

Siklus II

(%)

Peningkatan

Prestasi

1.

Minat belajar

47,62%

71,43%

49,98%

2.

Ketuntasan

76,19%

85,71%

12,50%

3.

Rata-rata

5,20

5,79

11,35%

2. Pembahasan

Setelah diperiksa ternyata terjadi peningkatan minat belajar siswa dari 10 anak (47,62 %) menjadi 15 (71,43%), peningkatan ketuntasan belajar dari 16 anak ( 76,19 %) menjadi 18 anak ( 85,71 %), dan peningkatan rata-rata dari 5,20 menjadi 5,79.

3. Kesimpulan

Dengan berakhirnya tindakan kelas pada siklus I disimpulkan sebagai berikut:

a. Adanya peningkatan minat siswa terhadap pelajaran matematika sebesar 49,98%.

b. Rata-rata hasil belajar siswa meningkat sebesar 11,35%.

c. Siswa mencapai ketuntasan belajar meningkat mencapai 12,50%.

d. Siswa lebih bergembira dan tidak merasa takut dalam pembelajaran di kelas sehingga suasana menjadi nyaman dan kondusif.


D. KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dengan judul: PEMBERIAN METODE UMPAN BALIK DENGAN MENUMBUHKAN RASA SENANG DAN NYAMAN BELAJAR MATEMATIKA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS 6 PADA KONSEP PERKALIAN DAN PEMBAGIAN DI SD NEGERI PLALAN 2 KEC. SERENGAN KOTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2005-2006, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

    1. Terjadi peningkatan minat siswa terhadap pelajaran matematika sebesar 200% dibandingkan sebelum diadakan penelitian tindakan kelas.

    2. Rata-rata hasil belajar siswa meningkat sebesar 17,44% dibandingkan sebelum diadakan penelitian tindakan kelas.

    3. Siswa mencapai ketuntasan belajar meningkat mencapai 63,63% dibandingkan sebelum diadakan penelitian tindakan kelas.

    4. Terjadi peningkatan prestasi belajar akhir USDA dari peringkat 189 pada tahun 2004-2005 dengan rata-rata 6,30 menjadi peringkat 168 pada tahun 2005-2006 dengan rata-rata 6,58 di wilayah Kota Surakarta.

    Dari beberapa kesimpulan tersebut dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa melalui pemberian metode umpan balik dengan menumbuhkan rasa senang dan nyaman belajar matematika diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 6 SD N Plalan 2 Kecamatan Serengan Kota Surakarta.

    DAFTAR PUSTAKA

    ______, 2003. UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

    DePorter dan Hernacki, 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Penerbit Kaifa

    Kompas, 1999. Materi Pelajaran Matematika SD Terlalu Abstrak dan Rumit. Kamis, 6 Mei 1999 Jakarta www.kompas.com Akses: 20 Oktober 2003.

    Mursell & Nasution, 2002. .Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Sinar Grafika Offset..

    Tabrani, dkk. 1994. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

    Tondowidjojo, 1985. Kunci Sukses Pendidik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

    Tesis MPd

    HUBUNGAN ANTARA PENILAIAN GURU TERHADAP KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DENGAN KINERJA  GURU SAINS  (PA)

    SMP  NEGERI DI  KABUPATEN   SUKOHAR

    ABSTRACT

    Bambang Sugiri, NIM: Q100 040 112. Relationships Assessment’s Teacher to Headmaster Leadership With The Performance The Science Teacher (Natural Science) of Public Junior High School in Sukoharjo Regency. Thesis Submitted for Master Program in Management with Concentration in Education System, Postgraduate, Muhammadiyah University of Surakarta, 2006.

    Background, result of survey of Mathematics, Physics and other Science by UNESCO in 43 states to children  have age been15 year, in the reality Indonesia occupy the very low level with Brazil and Peru. Result of the survey give the indication that there is some factor which still very require to be corrected to yield quality of the science study in general and physics especially.

    The purpose of this research are to know the relation which significance among Headmaster transformational leadership and Headmaster situational leadership with the performance of Science Teacher (Natural Science) of Public Junior High School in Sukoharjo Regency.

    This Research represents the analytic survey research also referred by a clarification research (explanatory study). This research is done on Public Junior High School in Sukoharjo Regency, executed in August to September 2006. This Research population is all Science teacher (Natural Science) of Public Junior High School Sukoharjo Regency, consisted of by the Physics and Biological teacher’s are counted 205 people. Sample Research are counted 100 responder, used the simple random sampling technique. Statistic test used to analyze this research data, by the multiple linear regression with SPSS Version 13..

    Result of research show there are: (1) significance correlation between Headmaster transformational leadership with The science teacher performance (Natural Science)  of Public Junior High School in Sukoharjo Regency (r = 0,443 and p = 0,000); (2) significance correlation between Headmaster situational leadership with The science teacher performance (Natural Science) of Public Junior High School in Sukoharjo Regency (r = 0,260 and p = 0,004); (3) Headmaster transformation leadership represent the most dominant factor relate to The science teacher performance (Natural Science) of Public Junior High School in Sukoharjo Regency.

    Suggestionof this research are: science teacher shall to improve the performance’s by upgrading study with developing skilled, use computer and internet, often write the journal science, research activity, making physic appliance, etc. The Headmaster’s shall to improve tranformational leadership to increase performance’s teacher.

    Keyword: Headmaster – Leadership – The science teacher performance.